Si kecil pun bisa menciptakan badai, badai tantrum namanya. yaitu perilaku si kecil yang tiba-tiba menunjukan kerewelannya dengan mengamuk,menangis keras,memukul,menendang dan menjerit hanya karena keinginannya tidak dimengerti atau tidak dituruti. meski dirasa sebagai ledakan dahsyat yang tak terkendali serta susah dipahami tapi hal itu wajar dan merupakan proses perkembangan yang normal si anak.bahkan para ahli psikologi anak justru mengkhawatirkan kalau ada anak yang tak pernah mengalaminya.
yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah mengendalikan tantrum tersebut supaya mengarah kepada hal yang lebih sehat misalnya menjadikan anak mampu menyatakan keinginnannya secara mandiri,menyuarakan pendapat,melepas energi emosi yang tertahan dibawah pengawasan kita serta dapat menjadi sinyal bagi kita saat anak mengalami kelelahan,rasa sakit yang tak terungkap dengan kata-kata.
penyebabnya secara umum karena anak merasa lapar,lelah,cemburu,belum dapat mengatakan dengan kalimat,belum dapat mengkoordinasikanantara tubuh dan pikiran atau karena perubahan rutinitas dan suasana dan mungkin juga sebab tertekan.
Rabu, 06 Juli 2011
SI KECIL HOBINYA JAJAN
Belum habis es krim dimakan sudah minta beli bakso, padahal belum tentu dimakan. Mainan mobil mobilan baru kemarin dbeli sudah bosan dan minta beli yang lain lagi, bukannya pelit tapi kan boros sekali jika dituruti terus.. padahal isalm membenci sikap boros.
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-Isra’: 26-27)
Mengapa Anak Suka Boros?
Konsep boros harus dibatasi secara kasus per kasus sesuai dengan kondisi keuangan keluarga masing-masing. Dengan demikian, boros adalah tindakan membelanjakan uang yang cenderung berlebih-lebihan, menurut tradisi umum yang berlaku dalam masyarakat tertentu, dan di luar batas kemampuan keluarga.
Lalu, mengapa anak suka boros? Setidaknya ada dua faktor yang membuat anak berperilaku boros. Pertama, faktor internal (bawaan), yaitu kecenderungan anak berperilaku boros sejak lahir.
Kedua, faktor eksternal, yaitu dorongan lingkungan keluarga atau pengaruh pergaulan. Maksudnya, jika anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang boros atau bergaul dengan teman yang boros, ia dapat terpengaruh menjadi anak yang boros.
“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-Isra’: 26-27)
Mengapa Anak Suka Boros?
Konsep boros harus dibatasi secara kasus per kasus sesuai dengan kondisi keuangan keluarga masing-masing. Dengan demikian, boros adalah tindakan membelanjakan uang yang cenderung berlebih-lebihan, menurut tradisi umum yang berlaku dalam masyarakat tertentu, dan di luar batas kemampuan keluarga.
Lalu, mengapa anak suka boros? Setidaknya ada dua faktor yang membuat anak berperilaku boros. Pertama, faktor internal (bawaan), yaitu kecenderungan anak berperilaku boros sejak lahir.
Kedua, faktor eksternal, yaitu dorongan lingkungan keluarga atau pengaruh pergaulan. Maksudnya, jika anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang boros atau bergaul dengan teman yang boros, ia dapat terpengaruh menjadi anak yang boros.
Sabtu, 05 Februari 2011
MEMBIMBING ANAK HIPERAKTIF
Apa sebenarnya yang disebut hiperaktif itu ? Gangguan hiperaktif sesungguhnya sudah dikenal sejak sekitar tahun 1900 di tengah dunia medis. Pada perkembangan selanjutnya mulai muncul istilah ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity disorder). Untuk dapat disebut memiliki gangguan hiperaktif, harus ada tiga gejala utama yang nampak dalam perilaku seorang anak, yaitu inatensi, hiperaktif, dan impulsif.
Inatensi Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.
Hiperaktif Gejala hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Duduk dengan tenang merupakan sesuatu yang sulit dilakukan. Ia akan bangkit dan berlari-lari, berjalan ke sana kemari, bahkan memanjat-manjat. Di samping itu, ia cenderung banyak bicara dan menimbulkan suara berisik.
Impulsif Gejala impulsif ditandai dengan kesulitan anak untuk menunda respon. Ada semacam dorongan untuk mengatakan/melakukan sesuatu yang tidak terkendali. Dorongan tersebut mendesak untuk diekspresikan dengan segera dan tanpa pertimbangan. Contoh nyata dari gejala impulsif adalah perilaku tidak sabar. Anak tidak akan sabar untuk menunggu orang menyelesaikan pembicaraan. Anak akan menyela pembicaraan atau buru-buru menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan. Anak juga tidak bisa untuk menunggu giliran, seperti antri misalnya. Sisi lain dari impulsivitas adalah anak berpotensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
11POLA PRILAKU ANAK
1. Kerja sama Sejumlah kecil anak belajar bermain atau bekerja secara bersama dengan anak lain sampai mereka berumur empat tahun. Semakin banyak kesempatan yang mereka miliki untuk melakukan ber sama-sama, semakin cepatmereka belajar melakukannya dalam cara bekerja sama.
2. Persaingan Jika persaingan menjadin suatu dorongan bagi anak-anak untuk berusaha sebaik-baiknya, hal itu menambah sosialisasi bagi mereka. Tetapi Jika hal itu di ekspresikan dalam pertengkaran dan kesombongan, akan menimbulkan sosialisasi yang buruk.
3. Kemurahan hati Kemurahan hati, sebagai mana terlihat pada kesediaan anak untuk berbagi sesuatu dengan anak lain, sikap untuk mementing kan diri akan berkurang setelah anak belajar bahwa kemurahan hati dapat menghasilkan penerimaan sosial yang baik.
4. Hasrat dan penerimaan sosial Jika hasrat untuk di terima kuat, hal itu mendorong anak untuk menyesuaikan diri dari tuntutan sosial. Hasrat untuk diterima oleh orang dewasa biasanya timbul lebih awal di bandingkan dengan hasrat diterima oleh teman sebaya.
5. Simpati Anak kecil tidak mampu berperilaku simpati sampai mereka pernah mengalami situasi yang mirip dengan dukacita. Mereka mengekspresikan simpati dengan berusaha menolong atau menghibur seseorang yang sedang bersedih.
6. Empati Empatik kemampuan untuk menempatkan diri sendiri dalam posisi orang lain dan meng hayati pengalaman orang tersebut. Hal ini akan berkembang jika anak dapat memahami ekspresi wajah atau maksud dari pembicaraan orang lain.
7. Ketergantungan Ketergantungan terhadap orang lain dalam hal bantuan, perhatian, dan kasih sayang. mendorong anak untuk berperilaku yang dapat diterima secara sosial. Anak-anak yang kurang motifasi.
8. Sikap ramah Anak kecil memperlihatkan sikap ramah melalui kesediaannya melakukan sesuatu terhadap orang lain dan meng ekspresikan kasi sayang terhadap mereka.
9. Sikap tidak mementingkan diri sendiri Anak yang memiliki kesempatan dan mendapatkan dorongan untuk berbagi atas apa yang mereka miliki, belajar memikirkan orang lain dan berbuat sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya memusatkan perhatian pada kepentingan dan milik mereka sendiri.
10. Meniru Dengan meniru seseorang yang diterima oleh sekelompok sosial, anak mengembangkan sifat yang menambah penerimaan kelompok terhadap diri mereka.
11. Perilaku kelekatan Dari landasan pada masa bayi, yaitu bayi mengembangkan suatu kelekatan yang hangat dan penuh cinta kasih kepada ibu atau pengganti ibu, anak kecil mengalihkan pola ini terhadap anak orang laindan belajar membina persahabatan dengan mereka.
AUTISME
Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia tiga tahun. Penyebab autisme adalah gangguan neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif. Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi secara verbal. Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya. Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk). Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas. Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat. Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autisme dapat terjadi pada siapa saja, tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar). Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1
Jumat, 21 Januari 2011
BIARKAN ANAK PELIHARA HEWAN
"Ma, kucingnya lucu ya, boleh ku pelihara?" Kata sang buah hati sambil memandang dengan tatapan mengiba pada Anda. Anda mungkin akan berfikir sejenak sebelum menjawab iya atau bahkan langsung berkata tidak. Masa anak-anak memang merupakan waktu untuk mengeksplorasi banyak hal. Karena itu, tak usah terlalu khawatir bila anak Anda meminta untuk diizinkan memelihara hewan. Pasalnya, ada beberapa hal positif yang bisa digali oleh anak-anak ketika mereka memelihara hewan. Dengan memelihara hewan maka anak-anak melatih keterampilan sosial mereka. Sekaligus melatihnya untuk mengembangkan rasa empati dan kemampuan untuk belajar bertanggung jawab. Karena saat "bertugas" merawat hewan tersebut, anak-anak dilatih untuk bersabar dan mengerti bagaimana cara memeliharanya dengan baik. Anak-anak juga belajar bertanggung jawab dalam memberikan makan dan minum atau memandikan hewan tersebut. Sesekali Anda mungkin juga perlu bersama-sama dengan sang buah hati merawat hewan tersebut. Selain Anda bisa memberikan pengajaran yang benar mengenai cara merawatnya, melakukan sesuatu kegiatan bersama-sama dapat membuat bonding (ikatan) antara orangtua dan anak terjalin lebih erat. Namun tetap saja banyak hal yang harus Anda perhatikan saat anak merengek untuk memelihara hewan. Anda harus menyesuaikan jenis binatang dengan usia sang anak. Hal ini untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Sebaiknya tanamkan pada anak untuk tidak memelihara hewan yang bisa membahayakan dirinya.
STIMULUS ANAK CERDAS
Stimulus pra lahir. Selain makanan bergizi, ibu dan ayah pun harus aktif memberi stimulus lainnya pada anak. Misalnya mengajak berbicara, memperdengarkan musik, diyakini dapat meningkatkan pembentukan sel-sel otak janin. Pemberian ASI Ekslusif. Memberikan ASI secara eksklusif selama usia bayi 0 - 6 bulan, tanpa dicampur dengan makanan (bubur susu, saring, biskuit, buah) dan cairan lain (susu formula, sari buah, air putih), dapat memudahkan ASI dicerna bayi. ASI mengandung DHA dan kolesterol yang paling penting untuk pembentukan sel otak. Dalam ASI terdapat sejumlah enzim yang diperlukan untuk mencerna DHA. Enzim-enzim ini tak terdapat pada makanan atau minuman lain. Memberi Anak Gizi Seimbang. Pemberian gizi yang baik dan benar seperti mengkonsumsi makanan yang kaya protein, asam folat, mineral dan nutrisi sejak awal kehamilan hingga usia anak 5 tahun sangat menunjang perkembangan dan kecerdasan anak. Beri Stimulasi, pesatnya tumbuh kembang otak pada bayi yang baru lahir sampai umur dua tahun, akan berkembang jika selalu diberikan stimuli. Misalnya dengan permainan yang merangsang otaknya. Berbagai macam bentuk dan warna permainan yang diberikan, akan memperkuat daya ingatnya untuk mengenal lebih banyak lagi benda maupun bentuk benda-benda yang ada di sekelilingnya. Selalu Memberi Kesempatan, dengan memberi anak kesempatan eksplorisasi mereka akan tumbuh menjadi anak cerdas dan lebih kreatif.
Minggu, 16 Januari 2011
NORMALKAH SI ANAK PUNYA TEMAN IMAJINER
Apakah buah hati Anda sering berbicara sendiri atau seolah seperti memiliki teman khayalan saat sedang beraktivitas? Jangan terburu-buru berprasangka mistik atau menganggapnya memiliki indera keenam. Berdasar tahapan tumbuh kembang anak, kondisi itu wajar dialami anak saat memasuki usia 3-4 tahun. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika kondisi ini berlanjut hingga usia lebih dari itu. Ada kemungkinan anak Anda menderita autis. “Ini bisa menjadi gejala awal autis,” kata Pemerhati dan juga Psikiater Anak, Dr Kresno Mulyadi dalam acara Journalist Class Pfizer, di Wisma GKBI, Jakarta, 30 Juni 2010. Kresno menambahkan, meski masa-masa bergaul dengan teman imajiner termasuk normal hingga usia empat tahun, namun sebaiknya orangtua tak membiarkan si kecil menikmatinya. Cobalah mengajaknya melakukan aktivitas positif lainnya sehingga konsentrasinya pada teman imajiner beralih. Misalnya, segera ajak ngobrol saat anak sedang asyik dengan teman imajinernya.
Langganan:
Entri (Atom)













